January 4th, 2011 - AutoTag - No Comments
Bila kita tinjau dari sisi sejarah, praktik human trafficking tidak berbeda dengan perbudakan. Masa kelam perbudakan yang paling besar terjadi di Benua Afrika. Benua yang dihuni oleh mayoritas penduduk berkulit gelap ini merupakan gudang para budak bagi kerajaan-kerajaan Eropa dan Amerika. Selama kurun waktu 1700-an, ribuan orang Afrika dibawa melintasi Samudera Atlantik dan dipekerjakan secara paksa di berbagai perkebunan di Amerika. Di Eropa, para budak ini dipekerjakan di istana-istana kerajaan sebagai tenaga rendahan atau sebagai buruh kasar di pabrik-pabrik yang banyak berdiri sejak Revolusi Industri bergulir. Para budak ini diperlakukan seperti binatang bahkan tidak diupah dengan layak. Pada masa ini, jual beli manusia merupakan hal yang dianggap wajar. Semakin banyak budak yang dimiliki seseorang, maka gengsi dan status sosialnya dianggap berkelas tinggi. Hal ini menimbulkan kesengsaraan bagi para warga kulit hitam Afrika.
( read more.. )
January 4th, 2011 - AutoTag - No Comments
Slavery atau perbudakan merupakan praktik politis dan sosial yang mencapai puncak perkembangannya sekitar tahun 1700-an di hampir seluruh belahan dunia, khususnya bangsa Afrika. Praktik yang mendapat kecaman dari berbagai bangsa ini merupakan potret kelam sejarah peradaban manusia. Manusia diperlakukan seperti barang dagangan bahkan binatang, perasaan dan pemikirannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diabaikan. Kekayaan dan kedudukan sosial pada saat itu dianggap lebih penting daripada nilai kemanusiaan.
( read more.. )
January 3rd, 2011 - AutoTag - No Comments
Pada waktu-waktu tertentu, seringkali kita merasa kesepian. Rasa sepi bisa juga muncul di saat kita berada di tengah keramaian. Perasaan sepi ada kaitannya dengan berubahnya keadaan dalam kehidupan kita. Kehilangan seseorang yang berarti, sahabat-sahabat sudah berganti status atau pindah tempat tinggal, ataupun jauh dengan keluarga.
Kesepian yang kita alami sejatinya bukan karena kita benar-benar sendiri, melainkan adanya dorongan perasaan yang membentuk persepsi tentang perbedaan diri kita dengan lingkungan sosial kita. Menurut John T. Cacioppo, seorang ilmuwan syaraf yang telah mempelajari isolasi manusia dan koneksi selama tiga decade, kesepian bukan aktualisasi dari kesendirian melainkan persepsi seseorang tentang isolasi sosial, sehingga apa yang dilihatnya seolah-olah membuatnya berbeda, terasing dari orang-orang di sekitarnya meskipun kenyataannya tidak seperti yang dipikirkannya.
( read more.. )
December 12th, 2010 - AutoTag - 1 Comment
Kartini memang sosok perempuan yang luar biasa, sehingga hari kelahirannya diperingati sebagai wujud penghargaan atas perjuangan dan jasa-jasanya, serta dijadikan momentum perempuan secara nasional. Memaknai Kartini dan Hari Kartini, bukan sekedar ritual tahunan kebangsaan. Tanpa mengabaikan peran dan perjuangan tokoh pahlawan perempuan lainnya, sosok yang dianggap sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia tersebut memiliki arti yang kuat dan unik. Belajar dari Kartini berarti belajar memahami dan memaknai kepribadian, perjuangan dan pemikirannya.
Sebagai satu pribadi, Kartini adalah sosok yang memiliki kepekaan perasaan dan keprihatinan terhadap nasib dan harapan kaumnya untuk terbebas dari diskriminasi gender dalam budaya feodal yang kental, serta nasib bangsanya dalam cengkeraman kolonialis. Kepekaan rasa telah membuatnya menjadi pribadi yang membumi, perenung yang memiliki daya kritis dalam berpikir, sehingga menuntunnya berjuang melalui cara yang tidak biasa di zamannya. Menyampaikan gagasan atas kondisi yang dialami diri dan bangsanya melalui tulisan pribadi berupa surat.
Sebagai seorang penulis dan pemikir, ia adalah sosok yang memiliki intelektualitas dengan kemampuannya mengemukakan gagasan-gagasan cemerlang seputar masalah sosial, pendidikan dan gender yang tidak cukup popular di zamannya. Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang, judul buku dari kumpulan surat-surat R.A Kartini untuk sahabat penanya Stella di Belanda yang dirilis tahun 1911, begitu fenomenal dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Kartini setidaknya telah membaca sekitar 30 buah buku dalam bahasa Belanda, empat buku dalam bahasa Perancis, membaca majalah yang terbit di Belanda secara teratur dan majalah berbahasa Belanda yang terbit di Semarang. Bacaannya banyak berkaitan dengan sastra dan perkembangan mutakhir perpolitikan di negeri Belanda.
Bacaan-bacaan inilah yang kemudian membuat setiap argumen Kartini tak terpatahkan karena didasari oleh kondisi obyektif.
December 12th, 2010 - AutoTag - 6 Comments
Lulus dan tidak lulus merupakan jawaban atas penantian akan hasil ujian. Kelulus ujian bisa jadi merupakan momentum kegembiraan siswa, sekaligus penentu keberhasilan prestasi kognitif siswa dari proses pembelajaran dalam lingkup pendidikan formal Ketidaklulusan dianggap bencana massal dunia pendidikan kita, berbagai reaksi ekspresif pun muncul sebagai bentuk ketidakpuasan dan “merasa dirugikan” oleh sistem yang diterapkan. Kelulusan dan ketidaklulusan dalam ujian nasional selalu menjadi perdebatan panas berkaitan dengan sistem dan kualitas lulusan itu sendiri. Padahal, jika dicermati ada yang lebih sering terlupakan daripada persoalan lulus atau tidak lulus ujian yaitu kompetensi siswa yang tidak sekedar aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotoriknya sebagai bagian dari ranah pendidikan yang harus dikembangkan dalam diri dan potensi siswa. Lalu, bagaimana arti penting kompetensi?
( read more.. )